Home » » Isi Hati Anak Negeri

Isi Hati Anak Negeri

Written By Planet Pengetahuan on Rabu, 26 September 2012 | 9/26/2012 01:14:00 PM


Artikel ini aku buat setelah memberikan pertanyaan kepada beberapa anak jalanan yang putus sekolah dan hanya sebentar merasakan nikmatnya menimba ilmu. Bahkan beberapa dari mereka mengatakan belum pernah sama sekali merasakan bangku sekolah. Jadi setelah melakukan tanya jawab langsung dengan mereka, aku mulai mengerti betapa besar sebenarnya keinginan mereka untuk melanjutkan sekolah.

***

"Pendidikan" apa yang kalian pikirkan pertama kali ketika mendengar kata yang satu ini? Kata yang sangat simpel dan sederhana namun sangat berisi.  Aku memang bukan orang yang pandai dalam membuat sebuah argumentasi, namun untuk yang satu ini aku berharap ada yang membaca artikel yang aku buat tentang Jeritan Hati Anak Negeri yang Ingin merasakan bangku sekolah tanpa sebuah kendala yang disebut biaya.

Aku tak mau menyalahkan satupun pihak disini. Karena aku rasa ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai anak negeri yang kaya akan kebudayaan. Jadi akan aku mulai dari sekarang.

Ada hari dimana aku mendengar sebuah istilah 'ups' mungkin lebih tepatnya aku sebut sebagai sebuah himbauan yakni "Wajib belajar 9 tahun". Yah itulah program yang sedang digalakkan oleh pemerintah. Jadi di harapkan setiap generasi penerus bangsa merasakan dan dapat menimba ilmu minimal hingga SMP. Pemerintah telah memberikan sebuah peluang emas dengan di berikannya dana bantuan yang biasa di sebut BOS. Dan masih kita ingat bersama, ada hari dimana aku mendengar sebuah ungkapan bahwa sekolah SD dan SMP itu gratis.

Sebenarnya kalo ditinjau benar atau tidaknya hal ini aku bisa bilang memang benar. Namun mengapa ketika pendaftaran sekolah kemarin ada sejumlah biaya yang harus saudara-saudaraku tanggung? Dan jumlahnya tidak main-main. Permainan apa yang ada di balik semua ini? Aku tidak mau berburuk sangka kepada siapapun. Namun aku berharap kejadian seperti ini tidak kalian alami.

Ada satu paragraf dalam artikel ini yang aku buat untuk mewakili isi hatiku sebagai salah satu anak Indonesia. Aku memang bukan berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Tapi aku punya mimpi. Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini. Dan jeritan hatiku ini mewakili mereka para generasi muda yang masih haus akan ilmu dan masih ingin merasakan bangku sekolah tanpa sebuah kendala yang disebut biaya.
Tolong dengarkan jeritan kami sebagai generasi muda yang masih haus akan ilmu. :( Kami hanya ingin menjadi salah satu anak negeri yang berhasil memajukan negeri tercinta kita ini. Negeri dimana kami dilahirkan dan dibesarkan. Aspek pendidikan menjadi salah satu aspek yang sangat dominan disini. Berikan kami ruang untuk terus menggali bakat yang kami miliki. Ijinkan kami menjadi salah satu bagian orang-orang sukses di Indonesia. Uang memang bukan segalanya, namun kenapa segalanya membutuhkan uang? :( Haruskah kami putus sekolah karena kendala biaya yang seringkali menjadi hambatan langkah kaki kami untuk mencapai sebuah cita-cita? Haruskah mimpi yang kami miliki tetap hanyalah sebuah mimpi? Apakah kami sebagai anak yang dilahirkan di sebuah keluarga dengan himpitan ekonomi tidak memiliki kesempatan untuk merasakan bangku sekolah? :( Bapak, Ibu, atau siapapun yang mendengarkan jeritan hati kami, tolong kami. Biarkan mimpi kami tercapai. Jangan halangi langkah kami untuk mencapainya. Jangan ambil kesempatan yang sudah diberikan untuk kami dari mereka para petinggi negeri ini. Itulah satu-satunya jembatan emas bagi kami untuk mencapai impian kami.
(Sumber www.google.com)
Baik, mungkin seperti itulah yang sekarang sedang berada di pikiranku. Itulah perasaanku sekarang. Tapi sebenarnya, harus aku tunjukkan kepada siapa satu paragraf di atas? Aku tak tahu. Aku tak mengerti. Aku hanya ingin meraih mimpiku. Dan cara yang dapat aku lakukan untuk meraih mimpi tersebut hanya dengan menimba ilmu setinggi mungkin.

Namun tahukah kamu bahwa yang menjadi kendala terbesar bagi rakyat kecil seperti aku ini dalam meraih mimpi adalah biaya? Yah memang benar pernyataan yang mengatakan bahwa tak ada yang gratis jaman sekarang. Begitu pula pendidikan. Namun bukankah pemerintah sudah memberikan bantuan untuk para generasi muda agar program wajib belajar 9 tahun dapat sukses dilaksanakan. Tapi apa yang terjadi?

Sebenarnya aku sebagai rakyat kecil tak mengerti betul tentang apa yang menimpa pendidikan di negeriku tersayang ini. Yang seharusnya gratis jadi tak 100% gratis. Aku bingung. Aku ingin menanyakan ini, tapi tak tahu kepada siapa. Apakah kamu bisa menjawabnya?


Isi Hati Anak Negeri Bagian 2
Bukan Seperti Guru Yang Aku Harapkan Alias Unik

Baik kita tinggalkan sisi suram dari sebuah fakta tentang mahalnya pendidikan di negeri ini. Aku tidak tahu apakah artikel bagian pertama tentang  Ingin merasakan bangku sekolah tanpa sebuah kendala yang disebut biaya itu bagi para dewan juri yang terhormat masuk dalam tema lomba yang diselenggarakan. Tapi itulah intro  yang aku berikan sebagai pembuka artikel yang akan aku buat kali ini. Karena aku rasa hal itu perlu aku ungkapkan demi kemajuan pendidikan di negeri tercinta ini.

***

Masuk pada bagian kedua yakni Bukan Seperti Guru yang Aku harapkan. Cerita ini aku ambil dari pengalaman pribadi ku sewaktu aku bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. yang ingin aku tinjau dari hal ini adalah aku pernah memiliki sosok guru yang bukan seperti guru pada umumnya. Ia memberikan motivasi secara tidak langsung dengan kata-kata yang terkadang membuat hati ini kesal dan sakit hati. Namun mungkin karena hal inilah, sampai sekarang nama guru tersebut masih melekat kuat di ingatanku. hahahaha Mungkin itu adalah salah satu cara mengajar yang sengaia ia buat untuk mendorong ku untuk maju. Tapi yang pasti setiap tutur katanya sering membuat sakit hati ini. Walau pada akhirnya kata-kata itu menjadi motivasi kuat dalam diriku untuk lebih baik.

Jadi masuk cerita, awal ketika kelasku di pegang oleh Pak A, sedikit-sedikit emang udah nyelekit (dalam bahasa Jawa artinya nyakitin hati). Tapi yah aku anggep semua itu hanya sebuah kata-kata yang akan mendorong rasa terpuruk ini menjadi dorongan untuk maju.

Tahukah kalian ilmu apa yang aku dapetin dari guru yang mengajarkan pelajaran PKN ku itu? Yah sebuah cerita Semarang Tempo dulu. Hingga tengah semester, tetap saja materi ini tidak pernah hilang ketika ia mengajar. Namun bukan berarti Pak A ini tak pernah membahas pelajaran yang ada di buku. Sempat sih tiap beberapa jam di bahas tapi ntar di sela-sela materi kembali lagi ke Semarang Tempo Dulu. hahahaha.

Alhasil disetiap pelajaran Pak A ini, teman-teman satu kelasku  loyo alias gak semangat. Kadang ia berbicara begitu pedas. Nah menurutku itulah kalimat yang membuat para muridnya ingin maju. Sebenarnya itu bikin warna tersendiri dalam dunia pendidikan.

Tahu gak apa kata-kata dari Pak A yang masih melekat kuat di telingaku hingga aku lulus sekarang? Kelasku sering disebut :

  • Muna-muni (Ini adalah bahasa Jawa. Kalo di ubah ke dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira cuma banyak bicara) - dengan ini Pak A berharap agar kelasku tak cuma banyak bicara tapi juga mendalami ilmu.
  • Maju mundur (kalo istilah yang satu ini aku rasa kalian sebagai pembaca juga ngerti ya? Hehehehehe jadi murid habis kemajuan terus mundur lagi. Jadi gak maju-maju kira-kira seperti itulah artinya) - dengan anggapan yang satu ini, kelasku diharapkan membuktikan bahwa bisa maju.
  • Mlenca-mlence (Ini bahasa Jawa. Kalo dalam bahasa Indonesia artinya adalah murid yang gak pernah benar. Gak punya pendirian) - Jadi aku rasa Pak A berusaha agar kelasku terus belajar.
Entahlah apa yang menyebabkan Pak A memberikan julukan seperti itu kepada kelasku. Tapi aku rasa jawabannya udah aku ketahui.

Namun ketika menjelang ujian, aku dan teman-temanku menjadikan 3 sebutan itu menjadi sebuah semangat yang mendorong kami untuk lulus. Kami ingin membuktikan kepada sang guru bahwa kelas kami tidak sejelek itu. Dan akhirnya ketika pengumuman kelulusan terdengar kami berhasil memberikan bukti kepada Pak A bahwa 3 sebutan tersebut tidak berlaku buat kelas kami. Tahu gak kenapa? Sebab kelas kami berhasil lulus 100% dengan nilai UN rata-rata sangat menakjubkan.

Aku tidak membenci guru ini atau mungkin malah harus berterima kasih kepadanya. ^^ Penilaian setiap orang berbeda bukan? Ini penilaianku sebagai sesorang yang benar-benar mengalaminya. Namun untuk kalian yang menjadi pengamat, silahkan nilai sendiri ya? Semoga Isi Hati anak bangsa bagian 2 ini bisa bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Makasih Pak A dengan membangkitkan semangat belajar kami walau tidak secara langsung. Aku tahu bahwa Anda tetap ingin yang terbaik buat kami. Dan sekarang benar. Kau telah berhasil pak A. ^^

Jangan benci guru apapun alasannya karena yang harus kita ketahui seperti apapun mereka, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita dengan cara mereka sendiri.

Isi Hati Anak Negeri Bagian 3
Guruku Sahabat karibku

Beralih ke bagian ketiga. Dimana ada guru yang tak sesuai harapan kita, tentu disitu akan ada guru yang melebihi harapan kita. Sebuah istilah yang benar-benar nyata dalam hidupku. Jika tadi aku membahas guru PKN yang mendorong muridnya untuk maju dengan cara yang aneh namun kali ini aku akan membahas seorang guru yang menjadi sahabat karibku ketika SMK. Ada 2 guru yang sangat bersahabat denganku. Aku akan menceritakannya. Sebuah sosok yang mungkin patut di cotoh.

***

Sosok 1
Bu Elis itulah namanya. Bu Elis sempat menjadi wali kelasku ketika aku kelas 2. Gurunya enerjik hehehehe semangat 45. Wajah lesu dan loyo jarang aku lihat pada guruyang satu ini. ^^
Ketika masuk pertama kali di kelas dengan semangat dia langsung mengucapkan salam. Selalu mendahului muridnya ketika enyapa.

"Selamat pagi" "Selamat Sore" menjadi salam khas yang selalu aku dengar dari mulutnya ketika memasuki kelas. Dia adalah guru Matematika. Ada sebuah ciri yang membedakan guru ini dengan guru lainnya yakni kata "Jelas?" hehehehe

Jadi setiap dia selesai mengajarkan sesuatu selalu di akhiri dengan kata ini. Kalo gak ya gini "Jelas atau jelas?" hehehehe ya aku kan cuma bisa jwab jelas. Kan cuma diberi 2 pilihan jawaban.

Sebenarnya bukan masalah cara mengajarnya yang akan aku bahas disini. Namun lebih kepada kedekatnnya denganku di luar pembelajaran. 

SMK adalah sekolah yang menyiapkan muridnya untuk bekerja sekolah lulus. Dan masih ingat dengan masalah pertama yang aku bahas tentang  Ingin merasakan bangku sekolah tanpa sebuah kendala yang disebut biaya? Disitu aku telah memaparkan bahwa pendidikan itu mahal. Jadi aku butuh uang untuk bisa menuntut ilmu. Aku tak mau membebankannya kepada orang tuaku sekaligus. Jadi setelah aku berkonsultasi kepada Bu Elis, ia mangerti betul mengenai masalah yang aku alami. Ia mengajarkanku untuk menjadi guru les. Hitung-hitung buat nambah penghasilan.Bukan hanya memberikan sebuah saran saja, namun ia ikut turun tangan menyebarkan iklan tentang menerima les privat tersebut. Ia bahkan memberiku uang untuk memasang iklan di salah satu surat kabar tentang ini.

Jarang bukan kita temui guru yang seperti ini? Ia mau membentu muridnya dalam hal biaya. Walau tidak secara langsung namun dengan ini aku belajar menghargai akan berharganya uang.Aku juga belajar bahwa aku tak boleh bergantung 100% pada sesorang.

***

Sosok 2
Setelah membahas Bu Elis masih ada lagi guruku yang menerjang waktu pensiunnya untuk tetap membimbing aku dan teman-temanku menghadapi Ujian Nasional. Dialah Bu Juwita sang guru Bahasa Indonesia.

Saat aku kelas 3, waktu mengajar Bu Juwita seharusnya sudah selesai. Ia seharusnya sudah pensiun. Bahkan perpisahan dengan Bu Juwita sewaktu upacara juga sudah dilakukan. Namun Bu Juwita berkehendak lain. Walaupun dia sudah pensiun, ia tak mau meninggalkan murid-muridnya begitu saja di saat Ujian Nasional tinggal beberapa langkah lagi. Dia tetap mau mengajar disitu walau tanpa seragam dinas nya dan status bukan lagi sebagai guru.

"Saya akan mengantarkan anak-anakku hingga ke gerbang ujian nasional dan berhasil lulus 100%." Itulah kata-kataya ketika berada di upacara bendera. Haru menyelimuti suasana saat itu. Inikah yangdisebut pengabdian sebagai guru? Aku baru mengerti sekarang apa yang disebut dengan Pengabdian. Dan aku mengerti itu dari Bu Juwita.

Seperti janjinya saat upacara, walau ia tidak lagi berstatus guru di sekolahku, namun ia tetap mengajarkan materi pelajaran Ujian Nasional. Tanpa seragam guru pada umumnya. Sesi pelajaran menjadi sangat menarik ketika dengannya. Semuanya menyukainya. Bahkan hingga sore haripun ketika tinggal hitungan hari menuju UN, Bu Juwita bersedia pulang hingga sore untuk menemani murid-murid belajar pada jam tambahan. Di saat yang seharusnya ia bisa beristirahat di rumah, namun ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama kami di sekolah.

Ia mengajar dengan sangat detail. Tak jarang ia mengajar dengan menggunakan nyanyian. heheheehe pembelajaran jadi tambah seru karena aku tak dibuat bosan dengan ikut bernyanyi bersama. Ada yel-yel yang di buat Bu Juwita untuk setiap perjumpaannya. Kalo aku tidak salah ingat seperti ini :

"Ujian Nasional?" serunya
"Kami Bisa, kami bisa, Kami Pasti Bisa"jawab serentak semua anak kelas 3.

Seperti itulah hebohnya kelas 3 setiap mendengar seruan Bu Juwita. Semangat berkobar. ^^

Untuk mengatasi kejenuhan belajar siswa, apalagi yang lagi stres mau ngadepin UN hehehe seperti aku ini, terkadang dihiasi dengan permainan alat musik. Seperti halnya permainan gitar yang dilakukan teman satu kelasku di dalam kelas.



Semua ini dilakukan agar anak-anak tidak jenuh dan bosan karena tekanan. Dan alhasil ternyata cara ini berhasil lho. Semua kembali belajar lagi. Yang tadi ngantuk sekarang udah gak ngantuk lagi, yang tadi malas sekarang udah gak malas lagi. Proses KBM berjalan lancar kembali walau hanya terpotong sekitar 4 menit untuk refresing seperti ini hehehe.

Seperti itulah cara sang guru hebat ini memberikan dorongan semangatnya kepada kami menjelang UN. Aku dan teman-temankudi buat lebih percaya diri sehingga tidak ada rasa stres ketika UN tiba. Dan tahukah seperti apa hasil dari pegabdian Bu Juwita? 

Sekolahku lulus 100%. Tak sia-sia pengabdian beliau. "Terima kasih Bu Juwita". Hanya kalimat itu yang bisa aku dan teman-temanku ucapkan ketika bertemu Bu Juwita Kami menangis di hadapannya. 

(Foto Bersama Bu Juwita dan guru lainnya setlah UN)



Baik ada 3 bagian dalam artikel ini yang sengaja aku buat demi kemajuan pendidikan di negeri tercinta kita ini. Untuk Bagian 1 aku hanya ingin memberikan gambaran bahwa banyak sekali anak negeri yang ingin merasakan bangku sekolah. Itulah isi hati para anak negeri ini.

Membahas Bagian 2 dan 3, banyak cara yang dilakukan oleh guru untuk mendorong murid nya maju. Baik dengan cara pura-pura menjatuhkan dan memberikan kesempatan pembuktian pada sang guru maupun dengan memberikan dorongan secara langsung. Apapun Cara yang yang dilakukan, aku tahu bahwa guru ingin yang terbaik untuk muridnya. 

Kalian tentu sudah membaca bagian 2 bukan? Pak A memberikan cara yang unik untuk mendorong muridnya maju. Walau tak secara langsung tapi aku tahu bahwa yang Pak A lakukan itu semata-mata bertujuan baik walaupun dengan cara yang berbeda dari guru lainnya. Tapi semua nya berhasil dengan sukses. Kami berhasil dan bisa mengikuti acara wisuda tanpa terkecuali.

(Foto Bersama 1 Program Keahlian Waktu Wisuda)

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di negeri ini. Indonesia adalah negera yang kaya. Semoga kekayaan yang ada juga menjadikan Indonesia kaya akan penduduk yang berintelektual. Maju terus Indonesia. Aku sebagai generasi muda akan selalu berusaha sebaik mungkin demi kemajuan mu. Terima kasih Pak Guru dan Bu Guru sebagai perantaraku yang telah menjadikanku seperti sekarang. Kini aku mengerti banyak hal. Berawal dari engkau dan tumbuh bersama pengalaman.

(Foto guru sekolahku)

Inilah sosok pahlawanku ketika aku sekolah. Mereka semua telah membantuku meraih mimpi. Dengan karakter masing-masing dan cara yang berbeda mereka mampu membuat aku menjadi seperti aku yang sekarang. Terima kasih Bapak dan Ibu Guru.


Bagikan Artikel Ini :

37 komentar:

  1. Jadi kangen guru-guru sekolah

    BalasHapus
  2. yang saya tahu sekolah itu nggak butuh biaya kok

    banyak dari temen saya dulu yg sekolah gratis, karena disekolahkan pemda, dari SD emang udah pinter, sering dapet beasiswa dan juara lomba seni

    tetapi memang diperlukan brain and behavior yang pas untuk itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk sebagian yang sistemnya bersih jauh dari kenakalan hehehehe

      Hapus
  3. Disamping gratis juga harus berkualitas tentunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener banget... poin ini lupa aku cantumin,,, ^^

      Hapus
  4. isi hati saya sama seperti mereka sobat...

    BalasHapus
  5. Kapan ya di Indonesia diutamakan pendidikan dan kesehatan gratis..,biar anak2 indonesia bisa sehat dan pintar semua n bernilai tinggi di mata dunia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. :D aamiin,, semoga doa kita ada yang mendengar hehehe

      Hapus
  6. Sosok guru ideal,
    Tentu siswanya sangat kehilangan bila beliau tak lagi memberikan pelajaran,
    Salut buat Bu Juwita dan Bu Elis yang dg rela hati membantu kesulitan siswanya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya,,, setelah kami lulus, bu juwita pensiun yang sesungguhnya...

      Hapus
  7. Masya Allah :) Allahu Akbar!
    Semangat Semangat anak negeri!!

    BalasHapus
  8. artikel yang sangat bagus ..
    aku suka baca postingan mu

    BalasHapus
  9. kunjungi blog ku yang satunya ya semua? :D Butuh komentar nih

    BalasHapus
  10. semoga guru2 jaman sekarang tidak kalah dengan guru2 jaman dahulu dalam memajukan anak bangsanya untuk meraih anak emas indonesia..

    saya titipkan anak2 indonesiaku kepada guru2 yang tanpa menyerah memberikan ilmu2nya.. ^__^

    BalasHapus
  11. semoga pendidikan di indonesia bsa lebih baik ya kedepannya ,
    amin

    BalasHapus
  12. yups saya setuju dengan argumen kita tak bisa menyalahkan siapapun, karena pihak pusatpun sudah berupaya untuk hal tersebut, dan terlebih lagi kita tidak boleh hanya sekedar berpangku tangan, pandai berkomentar, pandai mengkritisi, mari kita juga turut serta dalam hal ini sehingga permasalahan ini menemukan solusi.

    saya rasa jika kita semua terjun dan bersukarela untuk membagi sedikit ilmu kepada mereka, itu mungkin sudah menjadi salah satu kebahagian bagi mereka, toh itu juga dapat dijadikan pembelajaran dalam segi pendidikan mental kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah wah wah sangaaat berisi,,, sip dah.. :)

      Hapus
  13. http://curhatz.blogspot.com/ :salam kenal mbak ... nice my thread ...

    BalasHapus
  14. nice blog mbak, jangan lupa follback saya udah follow blognya

    kumpulwallpaper.blogspot.com

    BalasHapus
  15. salam kenal


    kunjungan perdana

    ditunggu kunjungan baliknya dan follownya ya

    BalasHapus
  16. memang sob,pendidikan masalah klasik negeri ini...tap jangan kuatir sob masih banyak kik teman-teman kita yang masih perduli dengan anak negeri ini...eh ..lupa belum kenalan ..salam kenal sob ..bahagia itu indah..*smile

    BalasHapus

  17. Saat hati merasa sepi
    kau datang menemani
    kau hangatkan hati dengan kasih sayangmu
    saat hati merasa gundah
    kau berikan sandaran untukku
    menenangkan hati dan
    sejenak melepas rindu
    yang melanda ditengah
    terangnya bulan dan banyaknya bintang

    Terima kasih…
    karna kau telah hadir untukku,
    ku harap ini akan selamanya
    Terima kasih…
    karna kau telah ada dalam hidupku
    ku harap ini akan abadi,
    ku harap kau rasa apa yang ku rasa

    Aku tak inginkan apapun darimu
    tapi hanya satu yang aku mau darimu
    SELALU dan SELALU lah kau buatku tersenyum
    dan jangan pernah
    kau lukis tangis dihati…karenamuu..

    puisi ini buat seseorang yang ada di hatiku saat ini

    Puisi Untuk Bapak Sakit | Puisi Twitter Lucu Tapi Bingung | Surat-surat cinta padamu | Puisi Tentang Matahari Dan Gelombang | Puisi Untuk Ibu Tercinta | Puisi Cinta dan Cita Terdampar | PUISI RENUNGAN KISAH SEMUT DAN BATU | PUISI BERSERAKAN | PUISI MEMBACA BAHASA SUNYI | Puisi Cinta Untuk Negeriku Indonesia | Puisi iPhone 5 Punya Saya | 3 Puisi Cinta Rindu Sedih | Mengapa Hanya Kau Beri Luka! Bacalah, | Layu Setangkai Mawar Cidera | 3 Puisi Perpisahan Romantis | Privacy Policy for www.puisina.blogspot.com | Bagai gema-gema panjang yang berhimpun | Betapapun juga: ia itu abadi | Masa yang penuh gairah | SURAT - SURAT CINTA By; Isbedy Stiawan ZS | Nenek tua tersandung ke dalam kematian | Bagai kabut mengambang | Kabut-kabut hari menimpa senja. | aku mau hidup seribu tahun lagi! | aku ini binatang jalang

    BalasHapus
  18. harusnya pendidikan anak negri ditanggung pemerintah

    BalasHapus

Ayo budayakan berkomentar demi kemajuan blog ini. Komentar Anda akan sangat bermanfaat bagi Planet Pengetahuan. Terima Kasih.

Entri Populer

 
Support : Planet Pengetahuan | ADRPro | Planet Pengetahuan
Copyright © 2013. PLANET PENGETAHUAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Planet Pengetahuan
Proudly powered by Blogger